Sejarah & Perkembangan Genteng dari Tanah Liat

Genteng Tanah Liat

Sejarah dan Perkembangan Genteng dari Tanah Liat dalam Arsitektur Indonesia

Genteng dari tanah liat adalah salah satu material atap yang sudah digunakan sejak zaman dahulu di Indonesia. Genteng dari tanah liat memiliki bentuk seperti cangkir terbalik yang disusun berjajar pada rangka atap. Terbuat dari tanah liat yang dicetak dan dibakar dengan tungku gerabah. Memiliki keunggulan seperti mampu menyerap panas, menahan air hujan, dan memberikan kesan estetik pada bangunan.

Genteng dari tanah liat memiliki sejarah yang panjang dan menarik dalam arsitektur Indonesia. Berikut ini adalah beberapa fakta sejarah dan perkembangan genteng dari tanah liat dalam arsitektur Indonesia:

1. Asal-usul genteng dari tanah liat

Genteng dari tanah liat diyakini berasal dari Tiongkok, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia. Menurut catatan sejarah, genteng dari tanah liat sudah digunakan di Tiongkok sejak 10.000 SM. Genteng dari tanah liat merupakan hasil inovasi dari penggunaan batu datar atau kerang sebagai penutup atap.²

Genteng dari tanah liat masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan maritim antara Tiongkok dan Nusantara. Salah satu bukti tertua penggunaan genteng dari tanah liat di Indonesia adalah temuan genteng di situs Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, yang berasal dari abad ke-5 Masehi. Genteng tersebut diduga merupakan bagian dari bangunan kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan Hindu-Buddha tertua di Indonesia.³

2. Pengaruh budaya dan agama terhadap bentuk genteng dari tanah liat

Genteng dari tanah liat mengalami berbagai pengaruh budaya dan agama terhadap bentuknya seiring dengan perkembangan sejarah Indonesia. Salah satu pengaruh budaya yang paling kental terlihat pada genteng adalah pengaruh budaya Jawa. Budaya Jawa memberikan ciri khas pada genteng berupa hiasan atau ornamen yang berbentuk binatang, tumbuhan, atau geometris.

Salah satu contoh genteng yang memiliki hiasan budaya Jawa adalah genteng gajahan atau gentong gajahan. Genteng ini memiliki hiasan berbentuk gajah yang melambangkan kekuatan dan kebesaran. Genteng ini biasanya digunakan untuk bangunan-bangunan istana atau candi pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa.

Salah satu pengaruh agama yang paling signifikan terlihat pada genteng adalah pengaruh agama Islam. Agama Islam memberikan ciri khas pada genteng berupa larangan penggunaan hiasan yang berbentuk makhluk hidup. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang melarang penggambaran makhluk hidup dalam seni rupa.

Salah satu contoh genteng yang memiliki pengaruh agama Islam adalah genteng panjang atau gentong panjang. Genteng ini memiliki bentuk yang lebih panjang dan tipis daripada genteng biasa. Genteng ini biasanya digunakan untuk bangunan-bangunan masjid atau pesantren pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

3. Jenis-jenis genteng dari tanah liat

Genteng dari tanah liat memiliki berbagai jenis yang berbeda-beda dalam bentuk, ukuran, warna, dan cara pemasangannya. Berikut ini adalah beberapa jenis genteng dari tanah liat yang umum digunakan dalam arsitektur Indonesia:

  • Genteng kodok

Genteng kodok atau yang juga disebut dengan genteng prentul atau genteng Italia adalah genteng tradisional Indonesia yang memiliki bentuk seperti cangkir terbalik dengan lekukan di tengah. Memberikan tampilan klasik pada bangunan dan mampu menahan air hujan dengan baik. Dibanderol mulai dari Rp1.500 per buah.

  • Genteng morando

Genteng morando atau yang juga disebut dengan genteng beton adalah genteng modern yang terbuat dari campuran semen, pasir, dan air. Genteng ini memiliki bentuk yang rata dan presisi, sehingga mudah dipasang dan dirawat. Memberikan tampilan minimalis pada bangunan dan mampu menahan panas dengan baik. Genteng ini dibanderol mulai dari Rp2.500 per buah.

  • Genteng metal

Genteng metal atau yang juga disebut dengan genteng seng adalah genteng alternatif yang terbuat dari lembaran logam tipis yang dilapisi cat anti karat. Memiliki bentuk yang bervariasi, seperti gelombang, datar, atau bergelombang. Memberikan tampilan modern pada bangunan dan mampu menahan angin dengan baik. Genteng ini dibanderol mulai dari Rp15.000 per lembar.

Baca Juga: Mengenal Besi Kanal Arsitektur: Fungsi, Jenis, dan Cara Pemasangannya

Itulah sejarah dan perkembangan genteng dari tanah liat dalam arsitektur Indonesia. Dengan mengetahui sejarah dan perkembangan genteng dari tanah liat, Anda dapat lebih menghargai dan memilih material atap yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya bangunan Anda. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *