Elemen Perancangan Kota dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Ruang Kota: Studi Kasus Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga

Ruang kota adalah ruang publik yang menjadi tempat berlangsungnya berbagai aktivitas sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat kota. Ruang kota juga menjadi cerminan identitas, karakter, dan citra kota itu sendiri. Oleh karena itu, ruang kota harus dirancang dengan baik agar dapat memberikan kenyamanan, keamanan, keindahan, dan kesejahteraan bagi penggunanya. Salah satu cara untuk merancang ruang kota yang baik adalah dengan memperhatikan elemen perancangan kota.

Elemen perancangan kota adalah komponen-komponen yang membentuk tatanan dan bentuk fisik kota sebagai lingkungan buatan manusia. Menurut Shirvani (1985), ada delapan elemen perancangan kota yang harus dipertimbangkan, yaitu:

1. Penggunaan lahan (land use)

Penggunaan lahan adalah fungsi atau kegiatan yang dilakukan di suatu lokasi tertentu. Pemanfaatan lahan dapat dibedakan menjadi penggunaan lahan primer (seperti perumahan, perdagangan, industri, pertanian, dll), penggunaan lahan sekunder (seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, olahraga, dll), dan penggunaan lahan tersier (seperti fasilitas umum, sosial, budaya, dll). Penggunaan lahan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat serta lingkungan sekitarnya. Konsumen lahan juga harus diatur dengan baik agar tidak menimbulkan konflik atau dampak negatif bagi ruang kota.

2.Bentuk dan massa bangunan (building form and massing)

Gaya dan massa bangunan adalah karakteristik fisik dari bangunan yang meliputi ukuran, orientasi, proporsi, siluet, warna, tekstur, dan gaya arsitektur. Gaya dan massa bangunan harus disesuaikan dengan konteks ruang kota yang ada. Bentuk dan massa bangunan juga harus menciptakan harmoni, variasi, ritme, dan kesatuan dalam komposisi ruang kota.

3. Sirkulasi dan parkir (circulation and parking)

Sirkulasi adalah sistem pergerakan orang dan kendaraan di dalam ruang kota. Lalu lintas dapat dibedakan menjadi sirkulasi motoris (seperti jalan raya, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dll) dan sirkulasi non motoris (seperti trotoar, jalur sepeda, jalur pejalan kaki, dll). Lalu lintas harus dirancang dengan baik agar dapat memfasilitasi mobilitas dan aksesibilitas pengguna ruang kota dengan lancar dan aman. Parkir adalah fasilitas untuk menampung kendaraan bermotor yang tidak digunakan sementara waktu.

4. Ruang terbuka (open space)

Ruang terbuka adalah ruang yang tidak tertutup oleh bangunan atau struktur lainnya. Kawasan terbuka dapat dibedakan menjadi ruang terbuka hijau (seperti taman kota, lapangan olahraga, hutan kota, dll) dan ruang terbuka abu-abu (seperti alun-alun kota, plaza kota, pedestrian mall, dll). Kawasan terbuka harus dirancang dengan baik agar dapat memberikan manfaat ekologis, estetis, sosial, dan psikologis bagi pengguna ruang kota. Ruang terbuka juga harus dijaga kelestariannya agar tidak berkurang atau beralih fungsi.

5. Jalur pejalan kaki (pedestrian ways)

Jalur pejalan kaki adalah jalur khusus yang diperuntukkan bagi pergerakan orang yang berjalan kaki. Alur pejalan kaki dapat berupa trotoar, jembatan penyeberangan, terowongan penyeberangan, zebra cross, dll. Alur pejalan kaki harus dirancang dengan baik agar dapat memberikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan bagi pejalan kaki. Jalur pejalan kaki juga harus diintegrasikan dengan fasilitas-fasilitas lain seperti halte bus, stasiun kereta, terminal, dll.

6. Pendukung aktivitas (activity support)

Pendukung aktivitas adalah fasilitas-fasilitas yang mendukung berlangsungnya aktivitas di ruang kota. Penunjang aktivitas dapat berupa fasilitas fisik (seperti penerangan, tempat sampah, toilet umum, bangku taman, dll) atau fasilitas non fisik (seperti informasi, hiburan, seni, dll). Pendukung aktivitas harus dirancang dengan baik agar dapat meningkatkan daya tarik dan kualitas ruang kota. Penunjang aktivitas juga harus disesuaikan dengan jenis dan skala aktivitas yang ada di ruang kota.

7. Elemen penanda (signage)

Elemen penanda adalah elemen-elemen yang memberikan informasi atau identitas tentang ruang kota. Komponen penanda dapat berupa papan nama jalan, peta lokasi, simbol arah, logo institusi, monumen, patung, dll. Komponen penanda harus dirancang dengan baik agar dapat memberikan informasi yang jelas dan akurat bagi pengguna ruang kota. Elemen penanda juga harus mencerminkan karakter dan citra kota yang ingin ditampilkan.

8. Preservasi (preservation) 

Preservasi adalah upaya untuk melestarikan nilai-nilai sejarah, budaya, atau alam yang ada di ruang kota. Konservasi dapat berupa perlindungan, pemeliharaan, restorasi, revitalisasi, atau adaptasi dari elemen-elemen yang memiliki nilai tersebut. Konservasi harus dilakukan dengan baik agar dapat menjaga kekayaan dan keunikan ruang kota. Preservasi juga harus menghormati hak-hak masyarakat setempat yang terkait dengan elemen-elemen tersebut.

Studi Kasus Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga

Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga adalah salah satu jalan utama yang menjadi bagian dari pusat bisnis kota Salatiga. Jalan ini memiliki panjang sekitar 2 km dan lebar sekitar 20 m. Sarana ini memiliki fungsi sebagai jalur transportasi utama dan sebagai tempat berlangsungnya berbagai aktivitas perdagangan, jasa, pendidikan, sosial, budaya, dan rekreasi. Sarana ini juga memiliki nilai sejarah sebagai jalan protokol yang pernah dilewati oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959.

Untuk mengetahui pengaruh elemen perancangan kota terhadap kualitas ruang kota pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga, penelitian ini menggunakan metode kualitatif rasionalistik. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara. Metode analisis data dilakukan dengan cara menganalisis hasil wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa elemen perancangan kota berpengaruh terhadap kualitas ruang kota pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga.

Pengaruh Elemen Perancangan Kota

Berikut ini adalah pengaruh elemen perancangan kota terhadap kualitas ruang kota pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga:

  • Penggunaan lahan

Penggunaan lahan pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga didominasi oleh fungsi perdagangan dan jasa. Terdapat banyak toko-toko, warung-warung, restoran-restoran, hotel-hotel, bank-bank, rumah sakit-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lain-lain yang berjejer di sepanjang jalan ini. Penggunaan lahan ini memberikan pengaruh positif terhadap kualitas ruang kota karena dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat serta meningkatkan perekonomian kota. Namun, penggunaan lahan ini juga memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas ruang kota karena dapat menimbulkan kemacetan, kebisingan, polusi udara, dan konflik antara pengguna ruang.

  • Bentuk dan massa bangunan

Gaya dan massa bangunan pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga bervariasi dari bangunan rendah hingga bangunan tinggi, dari bangunan tradisional hingga bangunan modern, dari bangunan sederhana hingga bangunan mewah. Bentuk dan massa bangunan ini memberikan pengaruh positif terhadap kualitas ruang kota karena dapat menciptakan variasi, ritme, dan kesatuan dalam komposisi ruang kota. Namun, bentuk dan massa bangunan ini juga memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas ruang kota karena dapat mengganggu harmoni, proporsi, dan siluet ruang kota.

  • Sirkulasi dan parkir

Sirkulasi dan parkir pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga tidak teratur dan tidak memadai. Lalu lintas motoris sering mengalami kemacetan akibat volume kendaraan yang melebihi kapasitas jalan. Lalu lintas non motoris juga tidak nyaman dan tidak aman akibat trotoar yang sempit, rusak, atau beralih fungsi menjadi tempat berjualan. Parkir on street sering menyalahi aturan dan mengurangi lajur jalan. Parkir off street juga kurang tersedia dan kurang terawat. Sirkulasi dan parkir ini memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas ruang kota karena dapat mengurangi mobilitas dan aksesibilitas pengguna ruang kota serta menurunkan estetika ruang kota.

  • Ruang terbuka

Ruang terbuka pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga sangat kurang dan tidak merata. Kawasan terbuka hijau hampir tidak ada atau hanya berupa pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Tempat terbuka abu-abu juga jarang ditemukan atau hanya berupa plaza-plaza kecil di depan beberapa bangunan. Temat terbuka ini memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas ruang kota karena tidak dapat memberikan manfaat ekologis, estetis, sosial, dan psikologis bagi pengguna ruang kota. Ruang terbuka ini juga tidak dijaga kelestariannya dan sering beralih fungsi menjadi tempat parkir atau tempat berjualan.

  • Jalur pejalan kaki

Jalur pejalan kaki pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga tidak memadai dan tidak nyaman. Deretan pejalan kaki berupa trotoar yang sempit, rusak, atau beralih fungsi menjadi tempat berjualan. Deretan pejalan kaki juga tidak terintegrasi dengan fasilitas-fasilitas lain seperti halte bus, stasiun kereta, terminal, dll. Jalur pejalan kaki ini memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas ruang kota karena tidak dapat memberikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan bagi pejalan kaki.

  • Pendukung aktivitas

Penunjang aktivitas pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga cukup banyak dan bervariasi. Pendukung aktivitas berupa fasilitas fisik seperti penerangan, tempat sampah, toilet umum, bangku taman, dll. Penunjang aktivitas juga berupa fasilitas non fisik seperti informasi, hiburan, seni, dll. Penunjang aktivitas ini memberikan pengaruh positif terhadap kualitas ruang kota karena dapat meningkatkan daya tarik dan kualitas ruang kota. Namun, pendukung aktivitas ini juga harus disesuaikan dengan jenis dan skala aktivitas yang ada di ruang kota.

  • Elemen penanda

Elemen penanda pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga cukup banyak dan bervariasi. Komponen penanda berupa papan nama jalan, peta lokasi, simbol arah, logo institusi, monumen, patung, dll. Komponen penanda ini memberikan pengaruh positif terhadap kualitas ruang kota karena dapat memberikan informasi yang jelas dan akurat bagi pengguna ruang kota. Elemen penanda ini juga mencerminkan karakter dan citra kota yang ingin ditampilkan.

  • Preservasi

Preservasi pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga kurang dilakukan dan kurang dihargai. Pemeliharaan berupa perlindungan, pemeliharaan, restorasi, revitalisasi, atau adaptasi dari elemen-elemen yang memiliki nilai sejarah, budaya, atau alam. Pemeliharaan ini memberikan pengaruh positif terhadap kualitas ruang kota karena dapat menjaga kekayaan dan keunikan ruang kota. Namun, Pemeliharaan ini juga harus menghormati hak-hak masyarakat setempat yang terkait dengan elemen-elemen tersebut.

Baca juga : Jelaskan Konsep Manusia, Ruang, dan Waktu dalam Sejarah dengan Contoh Peristiwa yang Relevan!

Demikianlah elemen perancangan kota dan pengaruhnya terhadap kualitas ruang kota pada Jalan Jendral Sudirman Kota Salatiga. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam memahami perancangan kota yang baik.

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *