Pengertian, Sejarah, dan Makna Filosofis dalam Arsitektur Jawa

Sejarah arsitektur jawa

Soko Guru: Pengertian, Sejarah, dan Makna Filosofis dalam Arsitektur Jawa

Jika Anda pernah melihat rumah joglo, salah satu ciri khasnya adalah adanya empat tiang utama yang menopang atap bangunan. Tiang-tiang ini disebut soko guru, yang merupakan salah satu elemen arsitektur tradisional Jawa. Soko guru memiliki fungsi penting untuk menyangga beban atap dan struktur rumah joglo, serta memberikan nilai estetika dan sejarah pada bangunan.

Pada artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang soko guru, mulai dari pengertian, sejarah, hingga makna filosofisnya dalam arsitektur Jawa. Simak ulasan berikut ini!

Pengertian Soko Guru

Soko guru adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti tiang tengah atau tiang seri. Soko guru adalah empat tiang utama yang menyangga atap rumah joglo. Biasanya terbuat dari kayu jati yang berkualitas dan berukuran besar. Sering dihiasi dengan ukiran kayu atau logam yang disebut soko gawang.

Soko guru memiliki bentuk dasar yang berupa balok atau kubus yang memiliki lubang atau celah di bagian atasnya. Lubang atau celah ini berfungsi untuk menyambungkan atau menyelipkan tiang rumah joglo ke dalam soko guru. Sambungan ini disebut sambungan pasak atau sambungan tumpu. Sambungan ini membuat tiang rumah joglo dapat berdiri tegak dan kokoh tanpa menggunakan paku atau sekrup.

Sejarah Soko Guru

Soko guru merupakan warisan budaya Jawa yang telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha. Soko guru berasal dari kata Tajug Loro (Juglo) yang artinya dua gunung. Dalam filsafat Jawa, gunung merupakan tempat yang tinggi dan sakral. Jika melihat bangunan Rumah Joglo, terlihat dua gunung yang terlihat dari bentuk atap Rumah Joglo. Namun seiring perkembangannya, penyebutan kata Juglo berubah menjadi Joglo seperti sekarang ini.
Soko guru pada mulanya digunakan untuk menopang tiang-tiang rumah panggung yang terbuat dari kayu. Soko guru juga digunakan untuk menandai status sosial pemilik rumah, semakin besar dan tinggi soko guru, semakin tinggi pula derajat pemiliknya. Oleh karena itu, soko guru biasanya hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan atau kerajaan, karena membutuhkan biaya yang besar.

Seiring berkembangnya zaman, soko guru juga mulai digunakan oleh berbagai kalangan dan sering digunakan pada gedung pemerintahan atau perkantoran. Soko guru juga mengalami beberapa modifikasi sesuai dengan gaya arsitektur yang berkembang, seperti gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, gaya Jawa Baratan, hingga gaya modern.

Makna Filosofis Soko Guru

Selain memiliki fungsi praktis, soko guru juga memiliki makna filosofis yang mendalam dalam arsitektur Jawa. Berikut ini adalah beberapa makna filosofis dari soko guru:

  • Soko guru melambangkan kekuatan dari empat penjuru mata angin. Dalam kepercayaan Jawa, empat penjuru mata angin memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, soko guru harus ditempatkan dengan tepat sesuai dengan arah mata angin agar mendapatkan perlindungan dan keselamatan.
  • Soko guru melambangkan keharmonisan antara manusia dengan alam semesta. Dalam konsep kosmologi Jawa, alam semesta terdiri dari tiga lapisan, yaitu jagad niskala (alam gaib), jagad manunggaling kawula gusti (alam roh), dan jagad karsa (alam nyata). Soko guru menghubungkan ketiga lapisan ini melalui tiang rumah joglo yang menembus atap rumah.
  • Soko guru melambangkan kebijaksanaan dalam memimpin. Dalam tradisi Jawa, soko guru adalah tempat dimana raja atau pemimpin bersemayam dan mengambil keputusan. Soko guru juga menjadi tempat dimana raja atau pemimpin menerima tamu dan rakyatnya. Oleh karena itu, soko guru harus dihormati dan dijaga dengan baik.

Baca Juga : Cara Menghitung Struktur Kolom dalam Arsitektur dengan Rumus dan Contoh Soal

Demikianlah pengertian, sejarah, dan makna filosofis dari soko guru dalam arsitektur Jawa. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang warisan budaya Jawa yang satu ini. Terima kasih!

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *