Sejarah Candi Borobudur Mahakarya Arsitektur Buddha dari Jawa Kuno

Sejarah Candi Borobudur – Candi Borobudur adalah salah satu warisan budaya dunia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia, yang memiliki luas 2.500 meter persegi dan tinggi 35 meter. Bangunan candi ini terdiri dari sembilan tingkat yang berbentuk stupa, yang melambangkan sembilan tahap pencapaian kesempurnaan dalam ajaran Buddha. Candi ini juga memiliki lebih dari 2.600 panel relief dan 504 arca Buddha yang menghiasi dinding-dindingnya.

Asal usul candi Borobudur masih menjadi misteri hingga kini, karena tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan secara pasti siapa yang membangunnya dan kapan pembangunannya dimulai. Berdasarkan penelitian para ahli, candi Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi, saat Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Dinasti Syailendra. Dinasti Syailendra adalah dinasti yang berkuasa di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, yang menganut agama Buddha Mahayana dan Vajrayana. Candi Borobudur diduga sebagai simbol keagungan dan kebaktian Dinasti Syailendra kepada Buddha.

 

Pembangunan candi

Pembangunan candi Borobudur diperkirakan memakan waktu sekitar 75 tahun, dengan melibatkan ribuan pekerja dan seniman. Candi ini dibangun dengan menggunakan batu andesit yang dipotong dan disusun tanpa menggunakan semen atau perekat lainnya. Teknik ini disebut sebagai teknik interlock, yang membuat batu-batu saling mengunci dan kuat. Candi ini juga dibangun dengan menggunakan konsep mandala, yaitu pola geometris yang merepresentasikan alam semesta dalam ajaran Buddha.

 

Struktur bangunan candi

Candi Borobudur memiliki tiga bagian utama, yaitu kaki, tubuh, dan puncak. Bagian kaki berbentuk bujur sangkar, yang melambangkan dunia manusia yang penuh dengan nafsu dan keserakahan. Bagian tubuh berbentuk lima buah bukit berundak, yang melambangkan dunia bodhisatwa atau makhluk yang berusaha mencapai pencerahan. Di bagian puncak berbentuk tiga buah lingkaran, yang melambangkan dunia nirwana atau kesempurnaan akhir.

Candi Borobudur juga memiliki empat pintu masuk di empat penjuru mata angin. Pintu masuk utama berada di sisi timur, yang menghadap ke Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dari pintu masuk ini, pengunjung dapat mengikuti jalur ziarah searah jarum jam, yang membentang sepanjang lima kilometer. Jalur ziarah ini mengajak pengunjung untuk membaca relief-relief yang menggambarkan kisah-kisah Buddha dan ajarannya.

 

Sejarah Candi Borobudur

Sayangnya, candi Borobudur mengalami masa-masa suram setelah Kerajaan Mataram Kuno runtuh pada abad ke-10 Masehi. Candi ini ditinggalkan dan terkubur oleh abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi. Selama berabad-abad, candi ini dilupakan oleh masyarakat sekitar, hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Raffles adalah Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, yang tertarik dengan sejarah dan budaya Jawa. Ia mendengar cerita tentang adanya candi besar di tengah hutan dari seorang kepala desa setempat. Ia kemudian mengirim tim untuk membersihkan semak belukar dan menggali candi tersebut.

Setelah ditemukan kembali, candi Borobudur masih menghadapi banyak ancaman, seperti perampokan, kerusakan, dan bencana alam. Pada tahun 1973, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UNESCO untuk melakukan pemugaran besar-besaran terhadap candi ini. Pemugaran ini melibatkan pembongkaran dan pembersihan lebih dari satu juta batu, serta pemasangan sistem drainase dan tata cahaya. Pemugaran ini selesai pada tahun 1983, dan candi Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

Hingga saat ini, candi Borobudur tetap menjadi salah satu ikon budaya dan pariwisata Indonesia, yang menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Candi ini juga menjadi tempat perayaan Waisak, yaitu hari suci umat Buddha yang memperingati kelahiran, pencerahan, dan parinirwana Buddha Gautama. Candi Borobudur adalah bukti nyata dari kecemerlangan peradaban Jawa kuno, yang mampu menciptakan karya seni yang megah dan sarat makna.

 

Baca juga: Sejarah Candi Prambanan Monumen Keagungan Hindu Jawa Kuno

 

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *