Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam salah satu kerajaan terbesar dan terkuat di Nusantara 

Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam – Kerajaan Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam yang berdiri dari tahun 1496 hingga 1903 Masehi di ujung utara Pulau Sumatera. Kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan terbesar dan terkuat di Nusantara, serta memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di dunia. Kerajaan ini juga dikenal sebagai kerajaan maritim yang memiliki armada laut yang tangguh dan berani menghadapi penjajah Belanda dan Inggris.

 

Pendiri dan Penguasa Kerajaan Aceh Darussalam

 

Menurut beberapa sumber sejarah, kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, yang merupakan putra dari Raja Inayat Syah dari Kerajaan Lamuri. Sultan Ali Mughayat Syah memeluk agama Islam sejak kecil dan mendapat bimbingan dari ulama-ulama yang datang dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok.

 

Sultan Ali Mughayat Syah menjadi raja pertama kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid Al-Mukammal. Ia memerintah dari tahun 1496 hingga 1528 Masehi. Ia berhasil membangun kerajaannya menjadi kerajaan yang makmur dan sejahtera, serta menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, seperti Samudera Pasai, Demak, Banten, Cirebon, dan Gresik.

 

Setelah Sultan Ali Mughayat Syah wafat, ia digantikan oleh putranya, Sultan Salahuddin, yang memerintah dari tahun 1528 hingga 1537 Masehi. Ia melanjutkan kebijakan ayahnya dalam mengembangkan perdagangan dan penyebaran Islam. Ia juga mengirim utusan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan membawa kembali ulama-ulama yang membantu mengajarkan agama Islam di kerajaannya.

 

Masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam

 

Untuk masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, yang merupakan cucu dari Sultan Ali Mughayat Syah. Ia memerintah dari tahun 1607 hingga 1636 Masehi. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup sebagian besar wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaya. Beliau juga berhasil mengalahkan Portugis yang menguasai Malaka pada tahun 1629 Masehi dan menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka.

 

Sultan Iskandar Muda juga dikenal sebagai raja yang taat beragama dan gemar bersedekah. Ia mendirikan masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan pondok-pondok pesantren untuk menunjang kegiatan keagamaan di kerajaannya. Ia juga mendapat kunjungan dari seorang penjelajah terkenal asal Inggris, yaitu Thomas Stamford Raffles, yang memberikan kesaksian positif tentang kerajaan Aceh Darussalam.

 

Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, ia digantikan oleh putrinya, Putri Ratu Safiatuddin Tajul Alam, yang memerintah dari tahun 1641 hingga 1675 Masehi. Ia merupakan ratu pertama dan satu-satunya di kerajaan Aceh Darussalam. Ia meneruskan kebijakan ayahnya dalam menjaga perdagangan dan penyebaran Islam. Beliau juga mengirim utusan ke Cina untuk menjalin hubungan baik dengan Kaisar Cina saat itu, yaitu Kaisar Qing.

 

Selanjutnya, kerajaan Aceh Darussalam diperintah oleh beberapa sultan dan ratu lainnya, antara lain Sultan Zainal Abidin (1675-1692), Sultan Jamalul Alam Badrul Munir (1699-1726), Sultan Alauddin Ahmad Syah (1726-1735), Ratu Zakiyatuddin Kamalat Syah (1735-1760), Sultan Alauddin Muhammad Da’ud Syah (1760-1781), Sultan Alauddin Jauharul Alam (1781-1795), Sultan Alauddin Mahmud Syah I (1795-1815), Sultan Jauharul Alam Syah (1815-1823), Sultan Alauddin Muhammad Da’ud Syah II (1823-1838), Sultan Alauddin Ibrahim Mansur Syah (1838-1870), Sultan Mahmud Syah II (1870-1874), dan Sultan Muhammad Da’ud Syah III (1874-1903).

 

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh Darussalam mengalami kemunduran dan runtuh akibat beberapa faktor, antara lain:

 

– Persaingan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti Banten, Mataram, Palembang, dan Minangkabau, yang mengurangi pengaruh dan pendapatan kerajaan Aceh Darussalam.

– Penyerangan dan penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa, terutama Belanda dan Inggris, yang menginginkan monopoli perdagangan di Sumatera. Belanda dan Inggris berhasil menguasai beberapa pelabuhan penting yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Aceh Darussalam,seperti Bengkulu, Padang, Jambi, dan Palembang.

– Pemberontakan dan perpecahan di dalam kerajaan Aceh Darussalam, yang menyebabkan lemahnya persatuan dan pertahanan kerajaan. Beberapa daerah di bawah kekuasaan kerajaan Aceh Darussalam memisahkan diri dan membentuk kerajaan-kerajaan sendiri,seperti kerajaan Peureulak, Pidie, Daya, dan Gayo.

 

Baca juga: Sejarah kerajaan Islam di Indonesia dan beberapa nama kerajaan islam yang ada di Indonesia

 

Peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam

Meskipun telah runtuh, kerajaan Aceh Darussalam meninggalkan beberapa peninggalan yang menjadi bukti sejarah keberadaannya, antara lain:

 

– Makam Sultan Iskandar Muda, yang terletak di Kompleks Makam Kherkoff, Banda Aceh. Makam ini merupakan makam termegah di kerajaan Aceh Darussalam. Dan makam ini memiliki arsitektur yang mewah dan megah, dengan ukiran dan hiasan yang indah. Tidak jarang makam ini juga menjadi tempat ziarah bagi umat Islam.

– Masjid Raya Baiturrahman, yang merupakan masjid terbesar di Aceh yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda. Dan masjid ini memiliki arsitektur yang unik dan menawan, dengan atap berbentuk kubah bertingkat tujuh dan menara berbentuk piramida. Masjid ini juga memiliki mihrab yang terbuat dari marmer putih yang diukir dengan indah.

– Museum Negeri Aceh, yang merupakan museum tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1915 Masehi. Museum ini menyimpan berbagai koleksi sejarah dan budaya kerajaan Aceh Darussalam, seperti:

senjata, peralatan rumah tangga, pakaian adat, perhiasan, mata uang, prasasti, naskah kuno, dan lain-lain.

 

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *