Sejarah Kerajaan Mataram Islam dari berdirinya sampai runtuhnya

Sejarah Kerajaan Mataram Islam – Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan Islam yang berdiri di Pulau Jawa dari awal abad ke-16 hingga akhir abad ke-18 Masehi. Kerajaan ini merupakan penerus dari kerajaan Pajang yang melemah dan terpecah akibat pemberontakan. Kerajaan ini mengalami masa keemasan di bawah pemerintahan Sultan Agung, namun kemudian mengalami kemunduran dan runtuh akibat perselisihan internal dan penjajahan Belanda.

 

Pendiri dan Penguasa Kerajaan Mataram Islam

 

Menurut beberapa sumber sejarah, kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Panembahan Senapati, yang merupakan putra dari Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan adalah seorang bangsawan dari kerajaan Pajang yang mendapat hadiah tanah di daerah Mataram dari Raja Hadiwijaya karena berhasil membunuh Arya Penangsang pada tahun 1549. Panembahan Senapati memeluk agama Islam sejak kecil dan mendapat bimbingan dari Wali Songo, yaitu sembilan orang ulama yang menyebarkan Islam di Jawa.

 

Panembahan Senapati menjadi raja pertama kerajaan Mataram Islam dengan gelar Sultan Adiwijaya atau Sultan Sayidin Panatagama. Ia memerintah dari tahun 1584 hingga 1601 Masehi. Ia berhasil membangun kerajaannya menjadi kerajaan yang kuat dan makmur, serta menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, seperti Aceh, Demak, Banten, Cirebon, dan Gresik. Beliau juga berhasil menaklukkan beberapa wilayah di Jawa, seperti Surabaya, Madura, Tuban, Pasuruan, dan Kediri.

 

Setelah Panembahan Senapati wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Susuhunan Amangkurat I, yang memerintah dari tahun 1646 hingga 1677 Masehi. Ia berbeda dengan ayahnya yang gigih melawan Belanda, ia justru bersikap lebih lunak terhadap penjajah. Ia juga menghadapi pemberontakan dari adiknya yang bernama Raden Mas Alit atau Pangeran Puger, yang tidak setuju dengan caranya memerintah. Pemberontakan ini berakhir dengan kematian Raden Mas Alit pada tahun 1678.

 

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

 

Masa kejayaan kerajaan Mataram Islam terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung, yang merupakan cucu dari Panembahan Senapati. Ia menjadi raja kedua kerajaan Mataram Islam dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ia memerintah dari tahun 1613 hingga 1645 Masehi.

Sultan Agung berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup hampir seluruh wilayah Jawa, kecuali Banten dan Batavia (Jakarta) yang dikuasai oleh Belanda atau VOC¹². Ia juga berhasil menguasai jalur perdagangan di Selat Sunda dan Selat Madura, serta mengalahkan Portugis yang mencoba mengganggu perdagangan tersebut²³.

 

Sultan Agung juga dikenal sebagai raja yang taat beragama dan gemar bersedekah. Ia mendirikan masjid-masjid besar yang indah, seperti:

  • Masjid Agung Demak
  • Masjid Gedhe Kauman

Ia juga mendukung kegiatan dakwah dan pendidikan Islam yang dilakukan oleh Wali Songo dan para ulama lainnya. Beliau juga mengganti kalender Saka Hindu dengan kalender Hijriyah sebagai tanda masuknya era baru bagi kerajaannya.

 

Keruntuhan Kerajaan Mataram Islam

 

Keruntuhan kerajaan Mataram Islam disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

 

– Perselisihan internal dalam keluarga kerajaan terkait suksesi kekuasaan. Setelah Sultan Agung wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Susuhunan Amangkurat II, yang memerintah dari tahun 1646 hingga 1677 Masehi. Ia harus menghadapi pemberontakan dari Trunojoyo, seorang adipati dari Madura, yang didukung oleh Sunan Kuning, seorang keturunan Sultan Agung. Pemberontakan ini berhasil ditumpas dengan bantuan Belanda pada tahun 1679.

– Persaingan eksternal dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti Banten, Cirebon, Palembang, dan Minangkabau, yang mengurangi pengaruh dan kekuasaan kerajaan Mataram Islam.

– Penyerangan dan penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa, terutama Belanda, yang menginginkan monopoli perdagangan di Jawa. Belanda berhasil menguasai beberapa pelabuhan penting yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Mataram Islam, seperti Batavia, Semarang, Surabaya, dan Gresik. Belanda juga memaksakan perjanjian-perjanjian yang merugikan kerajaan Mataram Islam, seperti Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757), yang memecah kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian, yaitu:

  • Kasunanan Surakarta
  • Kasultanan Yogyakarta

 

Baca juga: Sejarah Kerajaan Pajang salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa

 

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

 

Meskipun telah runtuh, kerajaan Mataram Islam meninggalkan beberapa peninggalan yang menjadi bukti sejarah keberadaannya, antara lain:

 

– Makam-makam raja-raja Mataram Islam, yang terletak di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Makam-makam ini memiliki arsitektur yang sederhana namun bersejarah. Makam ini juga menjadi tempat ziarah bagi umat Islam.

– Candi-candi megah yang menjadi simbol keagungan dan kebudayaannya, seperti:

  • Candi Prambanan
  • Candi Borobudur
  • Candi Sewu
  • Candi Plaosan

Candi-candi ini memiliki arsitektur yang menggabungkan unsur-unsur Hindu-Buddha dan Islam. Candi ini juga menjadi objek wisata yang menarik bagi para pengunjung.

– Prasasti-prasasti berbahasa Jawa dan Arab, yang ditemukan di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Prasasti-prasasti ini berisi tentang sejarah, hukum, perjanjian, dan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad. Prasasti ini menunjukkan tingkat keilmuan dan kebudayaan kerajaan Mataram Islam.

 

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *