Sejarah Kerajaan Samudera Pasai dari awal berdiri sampai runtuhnya kerajaan tersebut

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai – Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri dari abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Kerajaan ini terletak di pesisir utara Sumatera, dekat Lhokseumawe, Aceh. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara, serta memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di dunia.

 

Pendiri dan Penguasa Kerajaan Samudera Pasai

Menurut beberapa sumber sejarah, kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Marah Silu, yang setelah masuk Islam bergelar Sultan Malik Al-Saleh. Ia merupakan pemimpin pertama kerajaan ini yang memerintah dari tahun 1267 hingga 1297 Masehi. Ia juga dikenal sebagai raja yang berwibawa dan adil, serta berhasil membangun hubungan dagang dengan Cina, India, dan Arab.

Setelah Sultan Malik Al-Saleh wafat, ia digantikan oleh putranya, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, yang memerintah dari tahun 1297 hingga 1326 Masehi. Ia melanjutkan kebijakan ayahnya dalam mengembangkan perdagangan dan penyebaran Islam. Ia juga mengirim utusan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan membawa kembali ulama-ulama yang membantu mengajarkan agama Islam di kerajaannya.

 

Masa kejayaan kerajaan Samudera Pasai

Masa kejayaan kerajaan Samudera Pasai terjadi pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, yang merupakan putra dari Sultan Ahmad Malik Az-Zahir. Beliau memerintah dari tahun 1326 hingga 1345 Masehi. Dan berhasil menjadikan kerajaannya sebagai bandar dagang internasional yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari berbagai negara. Ia juga mengeluarkan mata uang emas (dirham) yang menjadi alat tukar yang populer di kawasan tersebut.

Sultan Mahmud Malik Az-Zahir juga dikenal sebagai raja yang taat beragama dan gemar bersedekah. Ia mendirikan masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan pondok-pondok pesantren untuk menunjang kegiatan keagamaan di kerajaannya². Ia juga mendapat kunjungan dari seorang penjelajah terkenal asal Maroko, yaitu Ibnu Battutah, yang memberikan kesaksian positif tentang kerajaan Samudera Pasai.

Setelah Sultan Mahmud Malik Az-Zahir wafat, ia digantikan oleh putranya, Sultan Zainal Abidin Malik Al-Mukammil, yang memerintah dari tahun 1345 hingga 1375 Masehi. Ia meneruskan kebijakan ayahnya dalam menjaga perdagangan dan penyebaran Islam. Ia juga mengirim utusan ke Cina untuk menjalin hubungan baik dengan Kaisar Cina saat itu, yaitu Kaisar Ming.

Selanjutnya, kerajaan Samudera Pasai diperintah oleh beberapa sultan lainnya, antara lain Sultan Ali Mughayat Syah (1375-1404), Sultan Zainal Abidin II (1404-1410), Sultan Muhammad Syah (1410-1428), Sultan Zainal Abidin III (1428-1466), Sultan Muhammad Syah II (1466-1477), Sultan Zainal Abidin IV (1477-1514), dan Sultan Zainal Abidin V (1514-1524).

 

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran dan runtuh akibat beberapa faktor, antara lain:

– Persaingan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti kerajaan Malaka, Aceh, dan Banten, yang mengurangi pengaruh dan pendapatan kerajaan Samudera Pasai.
– Penyerangan dan penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa, terutama Portugis, yang menginginkan monopoli perdagangan di Selat Malaka. Portugis berhasil menguasai Malaka pada tahun 1511, dan kemudian menyerang dan merampas harta benda kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1517.
– Pemberontakan dan perpecahan di dalam kerajaan Samudera Pasai, yang menyebabkan lemahnya persatuan dan pertahanan kerajaan. Beberapa daerah di bawah kekuasaan kerajaan Samudera Pasai memisahkan diri dan membentuk kerajaan-kerajaan sendiri, seperti kerajaan Peureulak, Pidie, Daya, dan Aceh.

 

Baca juga: Sejarah kerajaan Islam di Indonesia dan beberapa nama kerajaan islam yang ada di Indonesia

 

Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai

Meskipun telah runtuh, kerajaan Samudera Pasai meninggalkan beberapa peninggalan yang menjadi bukti sejarah keberadaannya, antara lain:

– Makam Sultan Malik Al-Saleh, yang terletak di Desa Samudera, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Makam ini merupakan makam tertua di Indonesia yang berusia lebih dari 700 tahun. Dan biasanya makam ini juga menjadi tempat ziarah bagi umat Islam.
– Mata uang emas (dirham), yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina. Uang ini memiliki berat sekitar 0,7 gram dan diameter sekitar 10 mm. Dan uang ini terbuat dari 70% emas murni 18 karat tanpa campuran kimia kertas. Mata uang ini bertuliskan kalimat syahadat dan nama sultan yang mengeluarkannya.
– Prasasti-prasasti berbahasa Arab dan Melayu, yang ditemukan di beberapa tempat di Aceh. Prasasti ini berisi tentang sejarah, hukum, perjanjian, dan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad. Prasasti ini menunjukkan tingkat keilmuan dan kebudayaan kerajaan Samudera Pasai.

 

NEXT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *